Selasa, 25 Maret 2014

Lelaki Tak Tentu

"Pagi."
Sapaan khas darimu yang kutunggu tiap pagi sekarang tiada. Suara ceriamu dengan memperlihatkan rentetan gigi berbehel yang sangat khas sudah tak kuterima lagi.
Entah sejak kapan setiap mata kami bertemu tak ada kata yang keluar.
Dan entah sejak kapan pula kami tak tertawa bersama lagi. Tak bicara berdua lagi.

Ini bukan kisah rumit mengenai sepasang kekasih. Bukan pula sebuah cerita picisan mengenai dua orang yang terkena 'friendzone' apalagi salah satu pihak berharap lebih. Bukan.
Ini hanya sebuah kisah mengenai aku dan lelaki berambut tak tentu yang berteman sangat dekat. Sangat amat dekat.

----
Kala itu aku dan dia sedang mengerjakan tugas di kampus. Khusyuk. Karena mengingat tugas ini dikumpulkan sebentar lagi dan satu orang teman kelompok kami yang entah kenapa tak masuk hari ini. Mungkin temanku ini tertidur(lagi).
Aku membaca, dia mengetik. Jika otak kami sudah tak sanggup, kami diam sejenak. Saling menatap lalu bertukar senyum dan kemudian aku tertawa. Iya, hanya aku yang tertawa. Sering kali terjadi hal seperti itu. Aku pun tak tahu mengapa. Pernah dia bertanya, "Ada yang salah dengan wajahku?" Dan dengan tegas aku menggelengkan kepala sembari berkata tidak. Lalu kami mengobrol hal apa saja...
Lalu tiba-tiba segerombolan teman kami datang menghampiri. Kami semua berkumpul dan mengobrol, dan tentu saja tugas jadi terabaikan. Yah masih ada beberapa hari lagi, dan masih ada teman kami yang tak masuk itu. Biarkan dia juga mengerjakan, karena aku sangat senang saat kami bertiga bersama. Hanya bertiga.
Kami dan segerombolan teman sedang asik mengobrol lalu tiba-tiba...hujan besar. Tidak, hujan itu tidak memberikan aba-aba kalau akan turun. Kami semua berlindung.
Aku tak bawa jaket dan pakaianku pun hanya kemeja lengan panjang yang tak cukup tebal. Aku sungguh kedinginan. Angin bertiup sangat kencang dan hujan makin deras. Semua mencari tempat duduk yang aman dari hujan. Aku duduk di sisi paling samping dan tentu terkena cipratan hujan. Kedinginan dan terkena cipratan, sangat bagus!!
Lalu dari belakang terdengar suara dia menyebut namaku, "Tanya saja olehmu sendiri. Tuh tanya saja dia." Dia menunjukku. Aku tak tahu dia dan teman perempuanku yang berambut pendek itu sedang membicarakan apa. Tapi aku cukup bisa menebak arah pembicaraanny.
"Ada apa?" Tanyaku pada perempuan itu.
"Kamu pacaran dengan dia?" Dia yang dimaksud perempuan itu tentu saja lelaki berbehel dengan rambut tak tentu. Aku kaget dengan pernyataannya. Baru kudengar ada yang mengira aku berpacaran dengan lelaki tak tentu itu. Lucu memang.
"Hah? Enggak kok. Kata siapa?"
"Tidak. Aku hanya menyimpulkan sendiri."
"Kalau kau benar bersama dia, bagaimana?" Tanya teman perempuanku yang lain yang berambut panjang.
"Ya...gak gimana-gimana."
"Udah gitu aja?"
"Lalu aku harus apa?"
...
Dan hujan pun bertambah deras. Angin makin kencang, dan aku makin kedinginan. Aku masih duduk dipaling samping dan dia--si lelaki tak tentu-- berada jauh dariku.

Aku mengerti. Kami harus menjaga jarak untuk beberapa waktu. Kami memang terlalu dekat. Sangat dekat.
Ucapan selamat pagi, genggaman tanganmu saat jalan berdua, tanganmu yang merangkul pundakku, kepalamu yang senang sekali bersandar di pundakku, dan sebuah pelukan tak akan lagi ada dalam beberapa waktu.
Kami tahu hubungan ini hanya sebatas teman. Tak kurang tak lebih dan juga tak akan berharap lebih.
Karena itu...mungkin kami harus menghilangkan kebiasaan yang identik dilakukan oleh sepasang kekasih. Dan kami harus menjaga jarak beberapa waktu saja.
-selesai-
Cerita ini jelas fiksi. Tapi beberapa terjadi di dunia nyata. Bahkan lelaki tak tentu itu pun nyata, hanya saja kami masih berteman dan tak jadi jauh seperti cerita di atas hahaha.
Untuk lelaki tak tentu, terimakasih telah menjadi teman yang sangat baik :)


-artimgwt-