Senin, 03 Juni 2013

Sebuah Buku Harapan

Sebuah Buku Harapan

"Pengen gini selamanya..."

"Hahaha...sama. Atau lebih dari kaya gini. I meant, lebih baik lagi."

Suasana malam itu mendadak haru. Sel-sel kelabu memaksaku untuk mellow sejenak. Mengingat aku dan kamu juga hari-hari sebelumnya.

"Kita sama dan sampai sekarang masih bisa kaya gini. Tapi nanti, kita akan beda tujuan...berpisah...bertemu teman baru."

"Itulah hidup. Setidaknya kita bakal terus berteman..." Aku mencoba meyakinkan. Memaksa otak untuk berpikir hal baik tentang kami. Rasional atau tidak, nanti saja, "...Sekarang pun bertemu banyak teman baru, tapi tetap saja aku akan balik ke kamu." Otak memintaku jujur. Teman baruku banyak, dan tetap saja aku selalu kembali untukmu. Seakan-akan, kamu orang yang sudah sangat penting.

"Tapi pernah gak kamu sadar?"

"Apa?"

"Seberapa banyak teman kita nanti, pasti akan berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Teman-teman lama hanya hidup dalam ingatan. Pernah gak mikir kaya gitu?"

"Sering." Sel kelabuku selalu memikirkan hal-hal jauh ke depan. Memikirkan hal semacam itu...terlalu sering. Intens sekali menjadi topik pikiran para sel-sel kelabu. Dan kamu menjadi salah satu topiknya.

"Jadi intinya harus bisa sendiri. Aku gak tau nih, teman-teman lamaku bilang, aku menjauhi mereka."

"Ya namanya hidup..." Hidup itu penuh penghakiman. Orang menghakimi orang lainnya. People judge other people, kata seseorang yang aku lupakan siapa namanya.

"Life must go on and time can't stop for a second."

"Tapi aku percaya sama satu hal..."

"Percaya apa?"

"Setiap satu orang akan mendapat satu sahabat sejati." Aku yakin. Selalu yakin akan hal itu. Jika 'selamanya' itu tak ada, maka 'forever alone' mustahil ada, kecuali itu pilihanmu. Jadi, kamu akan diberi satu orang sahabat untuk menemani hidupmu. Aku selalu yakin akan hal itu, "... Sekarang tenang saja. Kamu tinggal pilih mau sahabat yang mana."

"Kalau gitu aku pilih jadi sahabat Senja Adiwinata aja." Lelaki itu menyebut namaku. Dia yakin...aku sendiri ingin seyakin lelaki itu. Aku menaikkan sisi-sisi bibir mencoba untuk yakin. Seyakin dia dan senyum tulusnya.

"Nah kalau begitu tenang saja. Semoga kita akan tetap seperti ini sampai nanti." Aku memberi sebuah senyum malam itu. Sebuah senyum keyakinan. Rasional atau tidak? Kurasa kali ini kami sudah mencoba serasional mungkin. Aku dan lelaki itu...memang belum bisa bersama dan menolak bersama. Tapi aku dan lelaki itu selalu optimis akan janji-janji 'persahabatan' dalam waktu yang panjang.

"Mau sahabat Senja Adiwinata..." Lelaki itu mengatakannya lagi.

Aku tersenyum sekali lagi, lalu meng-aamiin-kan permintaan lelaki berkacamata itu.

Dan malam itu... Kami seperti mengisi kembali sebuah buku harapan dengan harapan-harapan kami lainnya.

-selesai-

Hyaaaa, sudah lama kan aku tak menulis cerita pendek di sini?? Nah, sekarang kuberi sebuah cerita dadakan. Semoga kalian menyukai cerita di atas.
Bagaimana Mei kalian? Mei-ku kali ini cukup lucu. Bobrok dibeberapa bagian tak masalah. Aku harus memperbaiki kerusakannya di bulan Juni ini. Ah dan bertemu kamu...membuat Mei menjadi lebih lucu lagi.
Selamat menikmati bulan Juni :D

-artimgwt-