Rabu, 15 Mei 2013

Berawal dari First Kiss

Suatu hari, terjadi sebuah percakapan bersama seorang teman lelaki. Percakapan yang cukup...aneh. Bagi saya aneh. Seseorang, sebut saja Mei, itu bertanya mengenai hal aneh dan tabu untuk dibicarakan oleh saya.

"Ti, emang ciuman pas pacaran itu penting?"

Hal yang aneh untuk saya. Entah otak saya yang kampung dan gak gaul, atau anak jaman sekarang sudah melampaui batas? Bahkan saya masih ingat sebuah percakapan 5 tahun lalu dengannya, "Sama Juni cuma ciuman doang kok." Juni, nama disamarkan, adalah pacarnya saat itu. Saat itu umur 17 pun masih sangat jauh untuk didatangi oleh kami. Aneh. Untuk saya tentu aneh.

"Gak tau."

"Tadi aku ngedenger cewe-cewe ngobrolin First Kiss." dan saya malah kepikiran lagu First Kiss di Technika...

"I don't know. Belum pernah melakukannya. Bahkan buat pacaran aja aku pikir panjang. Apalagi yang kaya gitu."

"Jangan kebanyakan mikir."

Saya memang terlalu banyak berpikir. Visioner. Berpikir sangat jauh untuk ke depan. Saya memilih tak berpacaran karena...panjang sekali alasannya. Faktor A sampai Z saya pikirkan. Melihat banyak teman menangis di sekolah karena seorang lelaki, galau gak berkualitas, terkekang padahal posisinya cuma pacar bukan orangtua, wasting time lah istilahnya kalau saya memilih berpacaran saat sekolah. Iya saya sangat mencintai waktu.

"Bahkan sampai sekarang aku gak tau fungsi pacaran itu apa." ujar Mei, "Buat aku pacaran itu kenalan, deket, pacaran, putus, terus jadi stranger. Udah tau sakit, tapi tetep aja gak kapok ngulangin lagi." lanjutnya.

Aku tertawa. Bahkan Mei yang sudah pro dalam hal itu belum tahu untuk apa.

"Ya makanya aku juga mikirin. Gak tau mau apa. Aku suka mikir tujuannya apa dulu."

"Tapi kata orang, kalau punya pacar itu jadi ada yang nyemangatin. Bukannya itu egois ya?" kata Mei lagi.

"Egois? Mungkin. Kamu semangat gak pas punya pacar?"

"Kamu gimana?" dia balik bertanya menanyakan pendapat setelah memberi jawaban yang saya lupakan jawabannya apa.

"Aku? Semangat mungkin."

"Eh kamu punya pacar Ti sekarang?" Mei sialan. Mungkin dia menolak sadar. Padahal dia hanya bertanya pendapat. Padahal Mei salah seorang yang menyarankan saya mengambil keputusan untuk menerima sesuatu yang baru. Walau hingga detik ini, masih seperempat otak yang mau menerima. Menerima sesuatu yang baru. Suatu penerimaan atau penolakan? Mari rahasiakan.

Dan sebenarnya masalah punya pacar atau tidak pun hanya saya, orang terkait, Mei lainnya, dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi~

Percakapan kami pun berlanjut membicarakan hal aneh lainnya.

Dan saya penasaran...memang kalian yang sudah berpacar sudah melakukan hal itu? =))
Dan yakin deh banyak yang jawab udah. Just guessing, bahkan beberapa sudah ML. Sulit ya pergaulan sekarang, jadi ngeri sendiri.

Yasudah selamat tinggal~