Rabu, 19 Januari 2011

Coming Back with His Soul (1)

Disini, aku hanya menunggu seseorang. Di tempat ini, aku hanya menantinya. Dan di hari ini, aku akan bertemu dengannya. Hanya di hari ini.
Mungkin semua bingung apa yang sedang terjadi, tapi yang pasti, aku akan tetap menantinya sampai pukul 12 malam. Dan jika ia tak datang juga, aku hanya akan menangis dan berdoa untuknya.

***
"Grace! Engkau dimana?" ucapnya yang sedang kewalahan mencariku. Sebenarnya aku berada di balik ruangan ini untuk memberinya sebuah kejutan ulang tahun. Aku menunggunya sampai ia menemukan tempatku bersembunyi. Tak lama kemudian aku tak mendengar teriakannya lagi, dan sekarang malah aku yang berusaha mencarinya.
"Ron! Kemana kau?" sekarang giliranku berteriak dan aku tidak tahu dimana dia. Saat sedang mencarinya, aku menemukan kertas berwarna pink tergeletak sendirian di atas meja yang berdebu. Maklum, aku menyuruhnya datang ke rumah kakak-ku yang sudah lama tidak ditempati, dan agar persiapan kejutanku berjalan tanpa ada gangguan sekitar. Lagipula rumah kakak-ku berada jauh dari keramaian.
Aku pun langsung membaca suratnya -
'Grace, dimanapun kau berada pasti kau akan menemukan surat ini disini. Saat kau baca pasti aku sudah menghilang, dan sebelum aku menulis surat ini pun aku mencarimu dulu.
Tapi waktuku tidak banyak, aku sedang dikejar! Aku tahu kau pasti akan memberiku hadiah ulangtahun, makanya kau menyuruhku kesini bukan? Tapi maaf sekali Grace, aku benar-benar tidak bisa menunggu, waktu terus mengejarku dan ia tak akan pernah mau menungguku. Tahun depan, tepat di tanggal dan bulan ini, aku berjanji akan datang ke tempat kita pertama bertemu.
Sahabatmu Ronny♥'
Aku pun menutup suratnya dan menyesal mengapa tidak langsung menemuinya. Disaat seperti ini aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar aku bisa bertemu dengannya.
''Ron, pasti kau selamat dari penjahat sialan itu!" ucapku dalam hati.
Aku pun segera pergi meninggalkan tempat itu dan memakan kue yang aku siapkan, berdua bersama foto Ron.

***
Kejadian setahun yang lalu. Kejadian yang membawaku ke tempat ini, taman kota. Kami berdua pertama bertemu disini saat kelas 3 SD. Saat itu, aku tak sengaja menyuruhnya menyembunyikanku dari teman-temanku saat bermain petak umpet, padahal mukanya sedang kusut, tapi dia mau menyembunyikanku. Sambil dia menyembunyikanku, kami mengobrol dan aku pun tahu apa yang telah menimpanya. Entah kenapa sejak saat itu kami sering bertemu. Setelah sering mengobrol dan bermain bersama, kami baru sadar kalau rumah kami berdekatan. Hanya beda 1 blok saja. Umur kami pun hanya terpaut 2 tahun, Ron lebih tua 2 tahun dariku.
Kami pun menjadi sepasang sahabat. Dan sudah 9 tahun kami menjalin pertemanan.

***
"Ron! Kau harus pergi dari sini! Kau tahu kan kalau mereka terus mengincarmu?" ucap teman Ron.
"Yeah aku tau Van, tapi sekarang ini aku harus ujian. Pendidikan akhir! Kalau aku pergi, aku besar jadi apa? Pencuri? Kriminal? Atau pembunuh bayaran?"
"Hey Ron... Aku tahu besok adalah hari terakhir ujian. Tapi setelah selesai ujian, apa kau bisa langsung meninggalkan tempat ini?" ucap Evan.
"Aku usahakan." jawab Ron dingin. Ron bisa meninggalkan semuanya, kecuali sahabatnya.
Orangtua Ron sudah meninggal saat ia berumur 10 tahun, dan itu saat pertama kali dia bertemu dengan Grace. Saat Ron sedang sangat terpukul akan kepergian orangtuanya. Sehabis mengubur jasad mereka, ia menghibur diri untuk pergi ke taman dan pada akhirnya bertemu dengan Grace.

***
Sekarang sudah pukul 10malam. Di sini pun sudah mulai sepi. Aku hanya mondar-mandir tak jelas dan sesekali memandang layar ponsel yang jelas-jelas tak akan ada nama Ron yang menelpon. Sejak 2 tahun lalu, Ron selalu menghilang tapi tiba-tiba muncul. Ia selalu datang untukku. Entah memberi tahu lewat e-mail, sms, telepon, atau apapun. Dia memberitahu dimana dia berada agar aku bisa menemuinya. Dan terakhir aku menemukannya itu setahun lalu, saat sehari sebelum ulangtahunnya.


***
"Van, ujian sudah selesai. Sekarang kita harus kemana?" tanya Ron yang kesal karena saat sedang ujian ditelpon Evan. Untung saja ponsel miliknya disimpan di meja pengawas dan juga dalam keadaan silent.
"Yang pasti jangan disini, aku tahu harus kemana. Ada pasport?"
"Lo gila Van? Aku sudah berbaik hati mau ninggalin sekolah demi keamanan, tapi kenapa harus luar negeri?"
"Tak ada tempat yang lebih aman lagi."
"Ah kau saja sendiri yang kesana. Aku masih ingin disini."
"Bilang saja kau tak mau meninggalkan adik kelasmu itu kan?" ucap Evan.
"Adik kelas? Jangankan adik kelas, aku tak rela meninggalkan bu Dian yang paling galak sekalipun."
"Alibi. Adik kelasmu itu sangat berarti kan?"
"Hem sebentar, sepertinya aku mulai membaca apa maksudmu. Pasti yang kau maksud itu Grace."
"Nah kau sadar."
"Grace itu sahabatku, aku tak mau meninggalkan dia. Pasti kalau kau punya sahabat, kau tak akan mau meninggalkannya kan? Sayangnya kau tidak merasakan apa yang aku rasakan, karena kau tak punya sahabat." ucap Ron yang langsung menusuk ke bagian hati Evan.
"Sudahlah! Itu tidak penting. Kau mau atau tidak? Biaya semuanya aku yang bayar. Tapi kuharap kau mau."
"Yeah, tapi aku mau berpamitan dulu ya."
"Ok whatever. Pukul 5 sore aku jemput ke tempatmu ya." Evan pun segera pulang meninggalkan sekolah Ron.
UN terakhir di SMA ini. Ron tentu tidak mau meninggalkannya.
Amalia Grace. Tentu saja Ron juga tidak akan pernah mau meninggalkannya. Maka dari itu ia akan berpamitan kepadanya.

"Grace! Amalia Grace..." teriak Ron sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Grace. Kalau ada orangtuanya, pasti Ron langsung dihajar oleh mereka, maklum orangtua Grace tak suka yang berisik. Untungnya tak ada orangtua Grace. Mereka sedang pergi kerja.
"Heh gak usah teriak kali. Ada apa? Ujianmu sudah beres kan? Bagaimana? Susah tidak?" ucap Grace dengan banyaknya pertanyaan.
"Sshhtt, apa kau tidak memperkenankan aku untuk masuk?"
"Oh iya lupa, ayo silahkan masuk dan duduk."
"Terimakasih."
"Jadi ada perlu apa kemari?"
"Aku mau pamit. Aku akan pergi dan mungkin seminggu lagi aku akan kembali."
"Kemana? Dan ada urusan apa?"
"Kesuatu tempat hemm untuk berlibur. Maklum aku kan mumet belajar terus. Nanti aku bawakan oleh-oleh deh." ucap Ron berbohong, "Nah hari ini aku mau pergi. Doakan agar aku selamat ya. Jadi seminggu kemudian aku bisa melihatmu lagi. Kalau kau rindu padaku, hubungi saja aku."
"Ron sepertinya aku memang akan menghubungimu."
------------------

*tbc
-neARTI-