Rabu, 19 Januari 2011

Boredom become Happy (1)

Kalau aku sedang melakukan aktivitas paling membosankan di dunia, biasanya aku akan memainkan ponselku dan chatting atau sekedar tweeting dengan mengeluarkan statement mengenai keterlambatan seseorang yang menyuruhnya TEPAT WAKTU, tapi nyatanya ia terlambat.
Tapi entah kenapa, aku sedang malas melakukan hal itu. Tweeting dan segala hal lainnya.
Mungkin aku sedang bosan dengan rutinitas itu.
Oh ya. Biasanya juga aku mengisi kebosanan dengan chat atau texting dengan sahabat karibku.
Tapi semenjak hari itu, dimana dia mengajakku pergi, aku tidak berhubungan lagi.
---

Friday, 20.56 o'clock
gracegeb : aku bosan.
myyahoomess : jadi?
gracegeb : aku ingin main.
myyahoomess : mau pergi bersamaku besok?
gracegeb : Ya aku mau saja. Kemana?
myyahoomess : Menemaniku nonton film. Ke bioskop. Mau tidak?
gracegeb : Asal hanya menonton, aku mau saja. Uang ku habis kemarin untuk menambah koleksi novel.
myyahoomess : ok. Di mall dekat sekolahku jam 1 ya.
gracegeb : Aku tunggu.

Kami pun melanjutkan chatting dengan membahas hal lainnya. Seputar sekolah, teman, hubungannya dengan mantannya, hubunganku dengan temanku, dia dengan perempuan yang akan di dekatinya. Ya kami sering berbagi cerita.
Mengasyikan bukan? Berbagi cerita dan menyimak ceritanya itu hal yang menyenangkan. Tapi kalau dia sudah membahas tentang hubungan kami yang dulu-dulu, rasanya aku ingin memutar waktu. Aku ingin dia tidak menyukaiku dan aku pun begitu. Kami begitu dekat karena memang dia pernah (atau sering?) memintaku sebagai pacarnya. Dan aku lebih memilih dia sebagai sahabatku. Bukan pacarku, walau aku menyukainya lebih dari apapun waktu itu.
-
Saturday, 12.55 o'clock
Aku menunggu sahabatku yang telah berjanji untuk datang pukul 1 di mall ini. Aku menunggu sejak setengah jam lalu. Dan dia belum datang juga.
Aku hubungi ponselnya tak diangkat.
Aku beri pesan lewat blackberry messenger tak dibalas.
Aku sms pun tak dibalas.
Aku curiga dia masih berada di kamarnya dan baru selesai mandi. Sungguh itu adalah kebiasaan buruknya di akhir pekan.
Aku pun memutuskan untuk duduk di area food court untuk memesan minum. Seperti biasa aku chat atau tweeting lewat blackberry-ku.
Saat aku sedang asyik melakukan kegiatan favoritku itu, ada orang yang mengagetkanku.
"Hai Grace! Sedang apa disini?" ucap cewek cantik dan tinggi itu. Baju shabrina dengan rok selutut juga memakai high heels yang tingginya sekitar 5cm itu membuatku tertegun. Brenda, teman SD-ku.
"Menunggu teman. Kau sendiri?"
"Ah aku juga sama. Kita tunggu bersama saja ya agar tidak terlalu bosan."
"Tentu."
Brenda adalah teman SD-ku, dia sudah sangat berubah. Dulu ia lebih dikenal sebagai si Cupu. Why? Karena dia suka memakai rok-nya di atas perut, lalu kaos kaki putih panjang selutut dan rambut diikat 2 disamping. Dan sekarang ia terlihat sangat cantik. Sangat berbeda. Jika dibandingkan dengan yang dulu, bisa dibilang aku lebih fashionable dibandingkan dengannya. Tapi sekarang? Ah bagai bumi dengan galaksi yang paling jauh dari bumi.
Aku lebih senang memakai t-shirt atau polo shirt ku dengan celana jeans dan membawa tas kecil untuk menyimpan benda yang harus ku bawa (jangan bayangkan isi tas ku penuh dengan make up seperti kebanyakan cewek lainnya, jangankan make up, sisir saja aku tak bawa). Sedangkan Brenda? Look so amazing! Walau aku senang dengan dandanan-ku yang benar-benar cuek, tapi aku tetap mengikuti perkembangan fashion kok, dan sepertinya tampilan Brenda sangat mengikuti trend.
"Bren, you look so amazing! Berubah banget deh. Why? Kok bisa?" ucapku kagum dan kaget dengan perubahannya.
"Ibu-ku hanya menyuruhku ikut agency model dan ya daripada diam di rumah terus aku setuju saja. Dan, why many friends said 'Lo berubah Bren' Emang bener gak sih?" tanyanya se-akan tak sadar kalau dulu dia seperti alien yang tersesat di bumi.
"Berubah 90 persen. Aku berani taruhan, pasti kau sedang tidak menunggu teman, pasti pacar ya? Apalagi melihat penampilanmu." tanyaku penasaran. Bagi siapa yang sudah mengenal dekat denganku, pasti tidak ada yang bisa disembunyikan. Walau niat mereka memang menyembunyikannya tapi akhirnya aku selalu tau. Mereka bilang itu kelebihanku, I think same like them.
"Ah tidak, aku ha..." belum selesai Brenda menjawab, ada suara yang sangat ku kenali menyapa.
"Hai, sudah lama? Maaf sekali aku telat, ponselku tertinggal di rumah." ucap cowo yang ternyata ia adalah sahabatku.
"Yep no problem." jawab Brenda. Aku kaget. Sangat! Kukira ia menyapaku, ternyata dia menyapa kami berdua.
"Ehm Grace, ini Brenda pacar baruku. Tampaknya kalian sudah saling mengenal ya? Kalau begitu berarti lebih baik. Nah sekarang kita mau kemana dulu?" ucap Ferdi.
"Grace, ternyata kau mau menunggu Ferdi juga? Ah dunia terlalu sempit ya. Berarti kau adalah teman baik Ferdi ya? Karena kemarin dia bilang akan mengajak teman baiknya. Tak kusangka itu kamu." tutur Brenda sambil tersenyum.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Fer, aku ada perlu lagi. Kau telat. Aku sudah lama menunggu, jadi sekarang sepertinya aku harus pulang." ucapku sambil membereskan barang-barang yang ada di atas meja.
"Grace! Mau kemana? Kenapa kau tiba-tiba marah?" tanya Ferdi.
"Aku mau pulang. Dan aku tidak marah, hanya kesal. Sudah tahu aku tidak suka dibohongi. Dan kenapa kau tidak bilang padaku akan membawa pacarmu? Kau bilang belum punya pacar lagi!" tanyaku panjang lebar dengan sedikit emosi.
"Maaf Grace, niatku hanya ingin memberimu kejutan. Maaf." ucap Ferdi. Dan sedari tadi Brenda hanya diam tidak membantah, membela, atau melerai.
"Aku pulang. Bye Brenda. Kalau ada kumpul sama anak-anak calling aku ya." ucapku ramah kepada Brenda. "Bye, eh moga langgeng ya." lanjutku.
Aku pun segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Ferdi berhenti memanggilku, dan Brenda tetap hanya diam karena bingung dengan keadaan saat ini.
-
Aku hanya diam di rumah memikirkan kenapa aku harus marah? Padahal dia hanya ingin mengenalkan pacarnya padaku, itu memang sering dilakukannya agar pacar-pacarnya tidak marah jika melihatnya berhubungan denganku. Sangat aneh sih jika dipikir. Seakan- akan pacarnya Ferdi hanya sebuah 'pendamping' dan pendamping sebenarnya itu aku.
Mengapa aku harus marah ya? Mungkin karena biasanya dia bilang dulu akan mengenalkan seseorang padaku. Tapi yang ini dia tidak bilang dulu. Dan aku tidak suka dibohongi.
Atau jangan-jangan aku mengharapkannya kembali? Ah yang itu lebih baik tidak terjadi. Walau sejak dulu aku mengharapkannya, dan juga dia mengharapkanku, aku lebih senang menjadikannya sahabat.
Menjadikannya sahabat lebih baik dibandingkan menjadikan dia pacar. Why? Because he's a playboy. Walau sebenarnya aku tau dia itu masih mengharapkanku dan aku satu-satunya yang ia sayangi (bukan ke ge-er an) makanya dia senang menggonta-ganti pacarnya agar perlahan bisa menghilangkan namaku dalam deretan list 'pacar selamanya' -walau di list itu hanya ada satu nama, yaitu aku-.
---


-nearti-