Jumat, 25 Juni 2010

Chapter 1

Hey aku disini, kalian mendengar atau setidaknya melihatku disini, berdiri disini diantara kalian. Apa kalian melihatku?? Oh ya tak usah di tanya, aku tahu jawabannya. Ya kalian tidak menganggapku. Bahkan aku bertanya ''Pukul berapa sekarang?'' atau ''Hey apa kabar?'' saja kalian tidak jawab. Jangankan begitu, saat aku datang tak ada satu pun orang yang menyapaku, ya kecuali Meri, Nasya, dan Syifa (mereka sahabatku disini, ya setidaknya yang menganggapku ada). Begini, aku dan Nasya itu sekelas dan memasuki ruangan besar itu bersama-sama, saat Nasya datang kalian tahu? Mereka memanggil namanya dan ya memberikan ciuman di pipinya. Sedangkan aku?? Oh tidak, disapa saja tidak. Malangnya diriku ini.
Aku khawatir akan diriku, sebenarnya aku ini berwujud nyata atau tidak?, sebenarnya aku ini terlihat atau tidak. Jangan-jangan aku ini hantu lagi. Iuh, aku bergidik seperti jijik pada diri sendiri. Atau mereka yang buta? Atau ada alergi khusus, jadi jika mereka dekat denganku mereka akan gatal-gatal atau bersin-bersin, dan jika mereka melihatku mereka akan buta, atau jika mereka mendengar aku bicara mereka akan tuli? Oh penyakit apa itu? Sungguh aku tak tahu.

Ya sudahlah nasibku begini sejak aku mendapat kelas 9-D. Kelas yang membuat aku seperti patung, atau seorang figuran yang memerankan suatu scene film. Tapi bedanya disini aku tak dibayar dengan uang, aku dibayar dengan pengalaman dan pelajaran agar aku tak boleh menganggap orang rendah atau menganggap orang terlalu tinggi. Aku tak boleh merasa keberadaan orang itu 'gak penting', ya karena itu rasanya SAKIT. Kalian tahu? Sakit, mungkin lebih dari yang namanya luka karena teriris oleh pisau, atau terkena tonjokan orang yah tentunya tonjokan yang kuat, bukan sebuah tonjokan ala cewe-cewe centil yang baju atau badannya terkena tanah/kotoran akan berteriak histeris.
Mengapa aku berkata begitu? Karena aku merasakannya, tangannku pernah teriris pisau, dan rasanya biasa saja karena saat tanganku sedikit teriris (aku sudah menyadari tanganku teriris, jadi ya aku cepat cepat berhenti mengiris) itu aku memikirkan 'Nasibku bagaimana? Aku buruk sekali, tak di anggap ada, aku ingin yang dulu.' Ya sewaktu dulu aku mempunyai teman kelas yang membaur satu sama lain, menganggap sekitarnya ada, bahkan aku mendapat julukan yang, yah walau agak kurang enak setidaknya julukan itu membuat mereka ingat akan diriku ini, karena julukan itu yang membuat diri kita spesial. Dan oh ya aku juga pernah kena tonjok seorang preman 'kampung' yang ingin merampok apapun yang kubawa. Kalian tahu kenapa aku ditodong? Karena aku sedang melamun dan tanpa sadar aku berjalan menuju markas para preman 'kampung' itu. Lagi-lagi aku melamun memikirkan nasibku yang sedikit buruk. Saat mereka menonjok tak tahu mengapa aku merasa tak kesakitan padahal tonjokan di perut itu sangat keras, ya aku hanya mengerang sedikit dan sedikit takut juga karena salah satu diantara 3 preman 'kampung' itu menodongkan senapan dan yang satunya lagi memegangku dengan menondongkan sebuah pisau kecil. Saat aku berteriak salah satu dari mereka menembakan pelurunya dan nyaris saja terkena ke kepala ku karena aku membungkuk, aku pun berhenti berteriak dan mereka mulai mengambil 'apapun' yang aku punya, ya kalian mengertilah, 'apapun' yang kubawa. Mengingat suaraku keras dan lantang, orang-orang segera datang dan mengejar mereka. Ya di sana aku beruntung (sekali) mempunyai suara yang beda dengan perempuan lainnya. Aku pun selamat dari preman 'kampung' itu, barang barang yang aku punya pun tak ada yang hilang.

Sakit? Ya kalian tau kan. Tapi aku tetap menjalani cerita ini karena ini adalah salah satu bagian dari hidup, merasa keberadaan hilang dalam sekejap!