Selasa, 04 Mei 2010

Pertanyaan Sang Nenek

Pada suatu hari ada seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah gubuk di tengah sawah, ia hanya tinggal di temani seruling bambu yang menemaninya setiap saat. Angin segar berdesir dan menemani anak lelaki itu tiap pagi. Anak itu berumur 12 tahun dan dia bernama Deryan, terkadang ada yang memanggilnya Ian.
Saat Ian sedang asyik memainkan seruling bambu-nya, ada seorang nenek yang tak jelas wajahnya dan perawakannya karena tertutup oleh topi yang terbuat dari anyaman, nenek itu memakai baju compang-camping dengan pakaiannya juga sedikit kotor dengan beberapa hiasan kain perca, mungkin baju itu sudah tidak layak pakai sebenarnya. Nenek itu pun menghampiri Ian dan duduk disebelahnya sembari memperhatikan Ian yang sedang bermain seruling.
Saat Ian berhenti bermain seruling itu, Ian bertanya kepada nenek tersebut, ''Nenek siapa?'' tanyanya heran bercampur takut.
''Panggil saja Nenek... Tak apalah, kamu siapa nak?''
''Saya Ian... Kenalin Nek.'' ucap Ian yang sudah mulai tak takut lagi.
''Disini kamu tinggal dengan siapa Ian?'' tanya Nenek itu dengan suara yang agak serak.
''Tinggal sendirian... Ayah saya beberapa tahun lalu kecelakaan tertabrak truk, setelah ayah saya meninggal, ibu saya pergi entah kemana. Katanya akan mencari kerja ke luar kota, dan saya dititipkan di rumah disana...'' ucap Ian sambil menunjuk sebuah rumah yang sepertinya tak berpenghuni, ''... Sebenarnya disana tempat paman saya, tapi entah takdir atau apa setelah ibu pergi beberapa minggu kemudian saat paman akan ke pasar ia tertabrak oleh mobil dan akhirnya saya hidup sendiri. Oh iya Nek, ini juga suling dari ayah saat saya ulangtahun yang ke 8. Ayah memang mahir membuat suling dan akhirnya saya dibuatkan suling ini oleh ayah, dibuat dengan sebuah kasih sayang.'' lanjut Ian sambil mengingat masa lalunya, ditinggal oleh orang tersayangnya secara beruntun... Bagaikan kematian berantai.
''Nenek turut sedih Nak... Dan kalau nenek lihat, Ian dari keluarga berada ya.'' ucap Nenek itu dengan sedikit air mata. Walau wajah nenek itu tertutup tapi Ian bisa melihat air mata yang jatuh sedikit demi sedikit.
''Ya itu dulu, dan setelah ayah saya meninggal saya tinggal bersama Paman di desa ini. Dan sampai sekarang masih disini menunggu ibu kembali.'' ucap Ian berharap ibunya segera kembali.
''Semoga saja Ibu mu segera kembali. Dan mungkin sebentar lagi akan segera kembali. Atau mungkin beberapa menit lagi.'' ujan Nenek itu meyakinkan Ian.
''Seberapa yakinya Nenek sampai sejauh itu? Teman saya yang lain juga suka meyakinkan mungkin beberapa minggu lagi, beberapa hari lagi, beberapa jam lagi, beberapa menit lagi, sampai beberapa detik lagi. Tapi nyatanya ibu belum juga datang. Yang dikatakan orang hanyalah sebuah harapan kosong! Harapan yang tak ada apa-apanya. Itu hanyalah janji semata.'' ucap Ian sedikit berteriak. Dan suasana di pagi ini memang masih sepi, apalagi udaranya masih segar.
''Apa kau masih sayang ibumu nak?'' tanya Nenek itu, mungkin itu sebuah cara lagi untuk meyakinkan Ian.
''Ya Ian masih sayang Ibu, Ian selalu berdoa agar Ibu datang secepatnya.'' ucap Ian dengan nada agak mendesah.
''Sekarang kamu yakin Ibumu akan datang tak lama lagi? Bahkan mungkin beberapa menit lagi.'' ucap Nenek itu lagi.
''Ya Ian yakin... Tapi hanya sedikit. Tapi karena Ian sayang Ibu jadi Ian yakin Ibu pasti datang.'' ucap Ian meyakinkan dirinya.
''Dan sebenarnya Ibumu sudah datang beberapa menit lalu, dihadapanmu Nak. Dan cobalah sekarang panggil Ibu, jangan Nenek.'' ucap Nenek itu sambil membuka topi yang menutupi sebagian wajahnya. Saat topi itu dibuka, rambut panjangnya pun tergerai bebas ditiup angin.
''Ibu... Apa Ibu baik-baik saja?''
''Ya Ibu tak apa-apa, waktu itu Ibu menjadi pembantu rumah tangga di suatu tempat yang jauh. Ibu disiksa hingga seperti ini. Dan untung saja Ibu bisa kabur untukmu Ian...'' ucap Ibu-nya menjelaskan semuanya.
''Ibu... Ian cari Ibu setelah Paman meninggal, dan setelah beberapa tahun tak bertemu, akhirnya Ian bisa bertemu Ibu.'' ucap Ian senang dan langsung memeluk Ibu-nya.
''Ya Ibu janji tak akan meninggalkanmu lagi. Dan Ibu akan menyekolahkanmu lagi sampai ke universitas.'' ucap Ibu-nya memberi janji.
''Makasih Ibu. Ian senang bisa bertemu Ibu.'' ucap Ian senang dengan mengeluarkan beberapa air mata.




-end-







ps : ini cerita andalan saya, kalau disuruh membuat cerpen atau apa yapasti ini.. Jadi jangan mengcopas karya saya!



-by : neARTI-